Rabu, 03 Maret 2010

Sampah sebagai Sumber Energi Alternatif

Sampah menjadi persoalan, khususnya di kota-kota besar di seluruh Indonesia. Timbunan sampah semakin meningkat seiring dengan peningkatan jumlah penduduk serta aktivitas ekonomi dan pembangunan. Timbunan sampah tersebut memerlukan pengelolaan dan pengolahan agar tidak menjadi sumber bencana, baik penyakit, pencemaran air tanah atau air permukaan, longsor, dan kebakaran. Salah satu teknik pengolahan dalam sistem persampahan adalah lahan urug (landfill). Dari lahan urug dihasilkan berbagai macam gas antara lain karbon dioksida (CO2) dan metana (CH4), sebagai hasil proses dekomposisi bahan-bahan organik yang terkandung dalam sampah.
 


Demikian juga dengan kotoran manusia, dengan pertambahan jumlah penduduk, maka produksi kotoran manusia pun meningkat. Kotoran manusia merupakan salah satu sumber energi alternatif yang cukup potensial, seperti halnya kotoran sapi, kotoran manusia juga berpotensi untuk menghasilkan gas metana (CH4). Hanya saja secara volume produksi kotoran manusia per hari masih kalah dari kotoran sapi. Namun dengan hal ini dapat diatasi dengan menerapkan system MCK terintegrasi, sehingga produksi kotoran manusia per hari dapat diperoleh dalam jumlah yang besar, demikian juga  potensi energinya.

Gas CH4 merupakan senyawa yang meningkatkan efek rumah kaca yang selanjutnya dapat meningkatkan pemanasan global, sehingga cara untuk mencegahnya mencemari udara adalah dilakukan konversi energi atau dibakar. Oleh karena itu, penerapan teknologi konversi energi terhadap kedua limbah perkotaan di atas selain menghasilkan energi alternatif, juga mengatasi permasalahan lingkungan hidup karena merupakan salah satu cara untuk melaksanakan Mekanisme Pembangunan Bersih (CDM). Mekanisme Pembangunan Bersih (Clean Development Mecanism) atau lebih dikenal dengan CDM, adalah salah satu mekanisme pada Kyoto Protokol yang mengatur negara maju dalam upayanya menurunkan emisi gas rumah kaca untuk menekan terjadinya pemanasan global

0 komentar:

Posting Komentar